• Indonesia Indonesia
    ID
  • English English
    EN

SANTRI: BENTENG TERAKHIR PERSATUAN UMAT

SANTRI: BENTENG TERAKHIR PERSATUAN UMAT

Santri
Foto: Dayah Athiyah / Muhammad Ikhsan
Table of Contents

Di timeline kita hari ini, semua orang bisa jadi ustadz. Satu potong video 15 detik bisa membuat orang membenci pesantren yang sudah berdiri 100 tahun. Padahal, kalau kita tarik garis sejarah, satu fakta tidak pernah berubah: Setiap kali Indonesia retak, yang pertama menambalnya adalah santri.

Sejarah Mencatat: Pesantren Lahir Sebelum Indonesia Ada

  • Jauh sebelum ada istilah “NKRI”, pesantren sudah ada. Tahun 1718, Pesantren Tegalsari di Ponorogo sudah mendidik santri. Itu 227 tahun sebelum Indonesia merdeka.
  • Walisongo tidak membangun istana. Mereka membangun pesantren. Karena mereka tahu, istana bisa runtuh, tapi pesantren akan melahirkan orang yang membangun istana lagi.

Ini referensi yang bisa kita cek: Prof. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren mencatat pesantren adalah lembaga pendidikan asli Nusantara tertua, bukan impor.

Ketika Negara Terancam, Santri Tidak Netral

  • 10 November 1945: Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Isinya satu kalimat: “Membela tanah air dari penjajah hukumnya Fardhu Ain.” Tanpa fatwa itu, tidak ada Pertempuran Surabaya. Tidak ada Hari Pahlawan.
  • Perang Diponegoro (1825-1830): Pasukan inti Pangeran Diponegoro adalah santri-santri dari pesantren Tegalrejo milik ayahnya. Mereka melawan bukan karena disuruh Belanda, tapi karena diajari di pesantren bahwa penjajahan harus dilawan.

Jadi kalau hari ini ada yang bilang “pesantren sarang ini-itu”, dia lupa sejarah. Pesantren adalah alasan kenapa kita masih bisa shalat dengan aman hari ini.

Di Tengah Derasnya Informasi, Kenapa Santri Jadi Benteng?

Algoritma media sosial hari ini dibuat untuk memecah. Yang lembut disingkirkan, yang marah-marah diviralkan.Pesantren mengajarkan kebalikannya:

  • Tabayyun, bukan share. Di pesantren, kalau dapat kabar, harus cek kitabnya, cek sanadnya. Itu diajarkan jauh sebelum ada istilah “cek fakta”. QS. Al-Hujurat: 6.
  • Sanad, bukan viral. Santri tidak menerima ilmu dari akun anonim. Harus jelas siapa ustaznya, ustaznya siapa, sampai ke Rasulullah. Inilah sistem anti-hoax tertua di dunia. Di Athiyah kita sebut Tahfizh Bersanad.
  • Persatuan, bukan golongan. Di satu pesantren, anak pejabat tidur sekamar dengan anak petani. Makan dari nampan yang sama. Itu yang tidak bisa dibeli oleh algoritma.
Penutup

Menyerang pesantren itu mudah. Cukup satu berita buruk.Tapi membangun pesantren itu butuh 100 tahun kesabaran. Hari ini informasi begitu deras. Tugas kita sebagai santri bukan membalas kebencian dengan kebencian.

Tugas kita adalah tetap menjadi benteng. Tetap ngaji. Tetap hafalan. Tetap jadi pemimpin.Karena pada akhirnya, ummat tidak butuh yang paling keras suaranya. Ummat butuh yang paling kokoh penjagaannya.

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2022

Dayah Athiyah – Lahir Dari Qur’an, Tumbuh Jadi Pemimpin.

Referensi:

  1. Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai.
  2. Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 – Ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
  3. QS. Al-Hujurat Ayat 6 Tentang Tabayyun.
Last Updated: 21 October 2026, 19:20

Bagikan:

Artikel Lainnya

  • Indonesia Indonesia
    ID
  • English English
    EN