Pentingnya Menghafal dan Murajaah Al-Qur’an
Nah, menghafal dan murajaah yang dimaksud di sini adalah menghafal Al-Qur’an dan murajaah Al-Qur’an. Sebenarnya menghafal dan murajaah itu dua hal yang sangat berbeda, yang satu menghafal dan yang satu lagi mengulang hafalan yang sudah pernah dihafal. Selain itu, menghafal dan murajaah itu sangat penting bagi kita. Mengapa itu penting? Karena itu salah satu cara kita untuk menambah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi firman Allah atau semua perkataan Allah.
Al-Qur’an itu adalah kitab yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira. Surah yang pertama turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Al-Qur’an itu juga berisi firman-firman Allah atau semua perkataan Allah. Dan banyak sekali adab-adab terhadap Al-Qur’an. Contohnya, seperti saat mau membaca ayat di dalam Al-Qur’an harus membaca taawuz atau basmalah.
Keyakinan dan Proses dalam Menghafal Al-Qur’an
Dalam menghafal dan murajaah kita harus mempunyai keyakinan untuk mencapai tujuan yang kita ingin. Keyakinan itu adalah pondasi, keyakinan yang melahirkan kekuatan yang berlipat ganda untuk melakukan tindakan konkrit sebagai wujud dari sebuah proses panjang kesuksesan. Ketika kita sudah mempunyai sebuah mimpi, kemudian dibuat perencanaan dan yang terakhir kita melakukan sebuah tindakan. Namun tindakan itu akan tidak maksimal bila tidak disertai dengan keyakinan akan sebuah kesuksesan atau sebuah keberhasilan.
Jangan pernah takut untuk bermimpi karena hari tak selamanya malam. Ada pagi untuk mengawali langkah-langkah kecilmu. Siang hari untuk melakukan hal yang besar dan sore hari untuk mengevaluasi diri. Penghafal adalah pilihan. Diawali dengan sebuah impian, kemudian kita membuat perencanaan dan setelah itu kita melakukan sebuah tindakan sebagai wujud dari sebuah proses yang benar.
Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya. Ketika kita berproses dengan benar, dengan hati yang tulus dan penuh ketekunan, maka kesuksesan akan datang. Sukses itu terkait dengan proses, dan proses berkaitan dengan waktu. Maka yakinlah bahwa Anda akan sukses, karena sukses adalah hak setiap orang.
Belajar dari Kegagalan dalam Menghafal dan Murajaah
Dalam menghafal dan murajaah terdapat kegagalan, tapi ingat kegagalan bukanlah akhir dari segalanya walau rasanya tidak enak, sakit, pahit dan malu. Tanyakan kepada orang yang telah berhasil menjadi penghafal apakah mereka pernah gagal dalam memperjuangkan apa yang diinginkan dalam menghafal dan murajaahnya? Tentu jawabannya pernah. Mereka pasti belajar dari sebuah kegagalan, memahami, dan menganalisis kesalahan apa sebenarnya yang telah membuatnya gagal. Dari sana mereka mencari cara untuk memperbaiki kesalahan tadi dan berusaha untuk menemukan formula yang lebih efektif guna mencapai hal yang menjadi tujuannya.
Menghafal Al-Qur’an dengan Cinta, Bukan Paksaan
Menghafal Al-Qur’an itu karena cinta bukan karena paksaan, dan jadikan kegiatan menghafal Al-Qur’an sebagai sejarah hidup yang paling istimewa. Kenapa harus istimewa? Karena dalam menghafal Al-Qur’an jangan menunggu kesempatan, tapi ciptakanlah kesempatan itu, dan dalam menghafal juga melatih kesabaran dan ketaatan kepada Allah. Dan tantangan menghafal yang sesungguhnya terletak pada kesabaran murajaah. Dan jangan menjadi penghafal yang hanya siap menghafal namun tidak siap untuk murajaah.
Menjaga Hafalan Al-Qur’an dengan Istikamah
Bersabarlah dalam menghafal dan murajaah. Yakinlah tidak ada perjuangan yang tidak berakhir.
Bertahan dalam menghafal dan murajaah adalah bukti cinta yang sejati kepada Allah.
Jangan merasa terbebani oleh murajaah Al-Qur’an tetapi bersyukurlah.
Tentang Penulis
Nurin Nasywa
Santri Kelas VIII SMP Plus Athiyah
Melalui tulisan ini, Nurin ingin mengajak sesama santri untuk memahami bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang menambah hafalan, tetapi juga tentang kesabaran dan ketekunan dalam menjaganya melalui murajaah. Nurin berharap tulisan ini dapat menjadi motivasi bagi para penghafal Al-Qur’an agar tidak mudah menyerah, tetap istiqamah dalam murajaah, serta menjadikan kecintaan kepada Al-Qur’an sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Editor: Bapak Muhammad Ikhsan, S. Pd., Gr.