Merdeka Belajar Abad 21 dan Generasi Cakap AI

Merdeka Belajar Abad 21 dan Generasi Cakap AI

kebiasaan islami santri
Foto: Dayah Athiyah / Tim Media
Table of Contents

Merdeka Belajar Abad 21 harus menyiapkan siswa sebagai pengguna sekaligus pencipta teknologi. Pendidikan perlu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, etika, dan kecakapan menggunakan kecerdasan artifisial atau AI secara bertanggung jawab.

Perkembangan AI mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi. Sekolah juga perlu melatih siswa untuk memahami teknologi, memeriksa informasi, menyelesaikan masalah, dan menggunakan AI untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.

Koding dan Kecerdasan Artifisial Memperkuat Kompetensi Abad 21

Pemerintah telah memasukkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan dalam pengembangan kurikulum nasional. Implementasi tersebut berlangsung secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026, dengan tahap awal pada kelas 5, 7, dan 10.

Kebijakan tersebut menunjukkan perubahan kebutuhan pendidikan di tengah perkembangan teknologi. Siswa tidak hanya membutuhkan kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga membutuhkan kemampuan memahami cara teknologi bekerja dan menggunakannya secara tepat.

Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dapat membantu siswa mengembangkan:

  • Berpikir komputasional untuk memecahkan masalah secara sistematis.
  • Berpikir kritis untuk menilai informasi dan hasil AI.
  • Kreativitas untuk menghasilkan gagasan dan karya baru.
  • Kemampuan memecahkan masalah melalui teknologi.
  • Etika digital untuk menggunakan AI secara aman dan bertanggung jawab.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial diarahkan untuk membentuk manusia yang kritis, produktif, beretika, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan serta memanfaatkan teknologi. (GTK Kemdikdasmen)

Merdeka Belajar Abad 21 Tidak Berarti Bebas Menggunakan AI

Kemampuan menggunakan AI tidak berarti siswa boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Sebaliknya, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia.

Pemerintah telah menerbitkan SKB Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial pada 12 Maret 2026. Pedoman tersebut mengatur penggunaan teknologi digital dan AI dalam pendidikan agar tetap memperhatikan usia, kesiapan anak, keamanan, serta manfaat pembelajaran. (Kementerian Komunikasi dan Digital)

Pendekatan tersebut penting karena penggunaan AI tanpa pendampingan dapat menimbulkan masalah. Ketergantungan pada jawaban instan dapat mengurangi proses berpikir aktif, sedangkan penggunaan teknologi yang terarah dapat mendukung pembelajaran. (Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan)

Karena itu, sekolah perlu mengajarkan beberapa kebiasaan:

  • Siswa menggunakan AI untuk mencari alternatif ide.
  • Siswa memeriksa kembali informasi dari AI.
  • Siswa tetap menyusun argumen berdasarkan pemikirannya sendiri.
  • Siswa mencantumkan penggunaan AI ketika diperlukan.
  • Pendidik memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi.

Generasi Emas Indonesia Harus Menjadi Pencipta Teknologi

Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata. Kebutuhan tersebut terlihat dari pengembangan AI Talent Factory yang dijalankan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk membangun talenta AI nasional.

Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pelatihan. AI Talent Factory juga mengarahkan peserta untuk mengembangkan solusi AI berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan industri. (BPSDM Komunikasi dan Digital)

Pemerintah juga mendorong pengembangan sovereign AI agar Indonesia memiliki kemampuan membangun dan mengelola teknologi AI secara lebih mandiri. Penguatan talenta, infrastruktur, model AI, dan inovasi menjadi bagian dari upaya tersebut. (Komdigi Portal)

Kondisi tersebut memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan. Sekolah perlu menyiapkan siswa bukan hanya untuk mencari pekerjaan di masa depan, tetapi juga untuk menciptakan solusi bagi masyarakat.

Pendidikan Karakter Tetap Menjadi Fondasi Era AI

Teknologi tidak dapat menggantikan karakter manusia. Karena itu, kecakapan AI perlu berjalan bersama pendidikan moral, agama, empati, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Siswa yang memiliki kemampuan teknologi tetapi tidak memiliki etika dapat menggunakan AI secara keliru. Sebaliknya, siswa yang memiliki ilmu, karakter, dan kecakapan digital dapat menggunakan teknologi untuk menghasilkan manfaat.

Konsep tersebut sejalan dengan arah pendidikan di Dayah Athiyah. Pendidikan di SMP Plus Athiyah mengintegrasikan kurikulum nasional dengan tahfizh Al-Qur’an, pembinaan karakter Islami, serta pengembangan potensi santri. Pendekatan tersebut menempatkan ilmu dan iman sebagai bagian yang saling melengkapi dalam mempersiapkan generasi masa depan. (Dayah Athiyah)

Lingkungan pendidikan yang memadukan akademik, Al-Qur’an, adab, dan keterampilan masa depan dapat menjadi ruang penting untuk membentuk generasi yang tidak gagap teknologi sekaligus tidak kehilangan nilai.

Dari Konsumen AI Menjadi Kreator yang Beretika

Generasi muda akan menghadapi dunia yang semakin dipengaruhi AI. Karena itu, kemampuan bertanya, berpikir, mencoba, mengevaluasi, dan menciptakan solusi akan semakin penting.

Sekolah dapat mendorong perubahan tersebut melalui kegiatan sederhana seperti:

  • Membuat proyek berbasis masalah di lingkungan sekitar.
  • Menggunakan AI untuk membantu proses riset.
  • Membandingkan jawaban AI dengan sumber terpercaya.
  • Membuat karya digital secara kolaboratif.
  • Mengembangkan ide teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pembelajaran berbasis proyek dapat membuat teknologi memiliki konteks nyata. Siswa tidak hanya mengetahui teknologi, tetapi juga memahami alasan dan tujuan penggunaannya.

FAQ Merdeka Belajar Abad 21 dan AI

Apa yang dimaksud Merdeka Belajar Abad 21?

Merdeka Belajar Abad 21 merupakan pendekatan pendidikan yang mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Apakah siswa harus belajar AI sejak dini?

Siswa perlu mengenal teknologi sesuai usia dan kesiapan mereka. Pemerintah juga telah mengatur pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pendidikan dengan mempertimbangkan perkembangan serta perlindungan anak. (Kementerian Komunikasi dan Digital)

Apakah AI dapat menggantikan Pendidik?

AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi pendidik tetap memiliki peran penting dalam membimbing, memberikan konteks, membangun karakter, dan mengembangkan kemampuan sosial siswa.

Mengapa siswa perlu belajar Koding dan AI?

Koding dan AI dapat melatih kemampuan berpikir komputasional, pemecahan masalah, kreativitas, serta literasi teknologi yang semakin dibutuhkan pada masa depan. (Direktorat SMK)

Kesimpulan: Merdeka Belajar Harus Melahirkan Pencipta

Key takeaway: Merdeka Belajar Abad 21 tidak cukup menghasilkan siswa yang mampu memakai teknologi. Pendidikan perlu menghasilkan generasi yang mampu memahami teknologi, berpikir kritis, menciptakan solusi, dan menggunakan AI dengan etika serta tanggung jawab.

Dayah Athiyah dapat menjadi salah satu pilihan bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan yang menggabungkan Al-Qur’an, akademik, karakter, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Orang tua dapat membaca artikel pendidikan lainnya di website Dayah Athiyah atau menghubungi WhatsApp resmi yang tersedia pada halaman kontak untuk mendapatkan informasi tentang program pendidikan yang tersedia. (Dayah Athiyah)

Last Updated: 15 August 2026, 06:59

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Tuliskan yang ingin Anda cari