• Indonesia Indonesia
    ID
  • English English
    EN

Toleransi dari (POV/Point of View) Islam

Toleransi dari (POV/Point of View) Islam

toleransi
Foto: Generate Chatgpt
Table of Contents

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk umat manusia dengan tuntunan hidup yang serba sempurna agar dijadikan pedoman hidup bagi mereka untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam diturunkan guna kepentingan manusia itu sendiri. Oleh karena itulah, Islam tidak memaksa orang-orang untuk memeluknya, sebab agama Islam bukanlah suatu ideologi yang kosong atau suatu ideologi yang mencari keuntungan di baliknya.

Dapat kita saksikan dengan jelas dalam sejarah perkembangan Islam bahwa Islam tidak pernah disyiarkan dengan paksaan ataupun tipu muslihat, baik sejak era Nabi Muhammad SAW maupun sampai masa kita sekarang ini. Bahkan, penyiarannya selalu diikuti sikap penuh toleransi dan dengan cara penyampaian yang luwes untuk mengajak umat manusia masuk agama Islam.

Dakwah Islam dan Tuntunan Toleransi

Agama Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan pesat karena ajarannya yang praktis dan selaras dengan fitrah manusia, serta cocok dengan segala zaman dan tempat. Yakni, agama yang tidak menggunakan atau mengajarkan metode-metode kuno yang tertinggal jauh dari peradaban yang sekarang untuk mengembangkan agama Allah di muka bumi, Allah mengajarkan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman agar senantiasa bertoleransi. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

أُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl [16]: 125).

Dalil naqli di atas memberikan kita gambaran bahwa Allah Ta’ala menyuruh kita untuk menyeru umat manusia dan membantah orang-orang kufur dengan cara yang baik.

Betapa mulianya Allah SWT. Bahkan saat agama-Nya yang dibantah pun beliau tetap menyuruh orang-orang mukmin dengan cara yang baik dan tanpa kekerasan. Hal ini semakin diperjelas selain pada ayat Al-Qur’an yang menerangkan perintah toleransi, Nabi SAW sendiri telah menguatkan dalam berbagai sabdanya (hadis), seperti pada hadis berikut:

“Sesungguhnya Allah itu pengasih pada kelembutan dan memberikan kepada orang yang berlaku lembut (santun) dengan sesuatu yang tidak diberikan pada orang-orang yang berlaku kasar, dan tidak akan diberikan kepada selain orang yang berlaku lembut (santun).” (H.R. Imam Muslim)

Rasulullah juga pernah memberi nasihat kepada Aisyah r.a.: “Hendaklah engkau selalu berlaku lembut, jangan berlaku kasar dan keji. Sesungguhnya perbuatan lemah-lembut itu akan menghiasi segala sesuatu, dan jika sifat ini hilang, sesuatu itu akan cacat.”

Hadis ini menjadi nasihat sekaligus tamparan untuk para perempuan. Kata “menghiasi” di hadis tersebut memberi kesan “cantik” kepada perempuan yang bersifat lemah lembut sekaligus menyindir halus orang-orang yang tidak berlaku lembut dengan kata “cacat”.

Perilaku lemah lembut dijunjung tinggi dalam Islam. Hal ini tentu saja berdampak pada pendapat orang-orang sekitar, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Baca juga: Jika Menghafal Itu Mudah, Mengapa Murajaah Itu Sulit?

Gambaran Sejarah Islam di Spanyol

Banyak orang Barat yang menilai perilaku kaum Muslimin. Pernah suatu masa keadaan Spanyol yang sangat kacau. Kekacauan ini bersumber dari pertikaian antar umat Nasrani. Pertengkaran ini disebabkan karena adanya pertentangan antar sesama penguasa daerah untuk merebut kekuasaan Spanyol sendiri.

Seorang penulis sekaligus ahli sejarah Spanyol bernama “Savedra” menyatakan penyesalannya dalam salah satu karyanya yang berjudul Estudio sobre la invasión de los bes en España.

Ia memberi komentar kepada umat Islam yang datang ke Spanyol pada masa itu sebagai berikut: “Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa sebelum kedatangan kaum Muslimin di Spanyol, keadaan Spanyol sangat terbelakang sekali. Sebagaimana tidak berlebihan pula jika kita katakan bahwa sumbangan kaum Muslimin sangatlah besar dalam memajukan negeri Spanyol. Sebab utama kemunduran bangsa Spanyol sebelum kedatangan kaum Muslimin adalah banyaknya kekacauan dan pertikaian yang meliputi seluruh Spanyol. Kemudian, raja Gothikiyah menyebabkan Spanyol dilanda pertikaian agama.

Duduknya panglima Rhoderik di singgasana Spanyol menyebabkan banyak lawannya yang meminta bantuan kepada bangsa asing untuk menumbangkan panglima Rhoderik. Tepat setelah kaum Muslimin masuk ke negeri Spanyol, satu per satu benteng kaum Nasrani jatuh ke tangan kaum Muslimin, sampai panglima Theodomere menolak untuk bergabung dengan para panglima Nasrani di bawah pimpinan Storyage untuk memukul mundur kaum Muslimin. Sungguh, itu karena tidak adanya persatuan antarsesamanya, seperti yang ada pada bangsa Spanyol yang dewasa ini.”

Dari komentar Savedra dapat ditarik kesimpulan bahwa yang memudahkan kaum Muslimin menaklukkan Spanyol yaitu karena adanya perpecahan dan pertikaian antarkelompok umat Nasrani Spanyol sendiri.

Bila ahli sejarah Savedra menyesal atas kedatangan kaum Muslimin, Reinhart Dozy justru memiliki argumen yang berbeda. Seorang sejarawan dari Belanda ini justru menganggap kedatangan Islam sebagai obat bagi pecahnya Spanyol. Berikut kutipan ringkas bahasan Reinhart Dozy:

“Saat di bawah pemerintahan Islam, pemerintah Islam secepatnya berusaha menstabilkan keadaan dan membasmi kerusuhan pada Masyarakat  dan mengembalikan Spanyol seperti normal kembali. Kaum Muslimin memperlakukan kaum Nasrani dengan toleransi dibandingkan dengan bangsa Gothik sewaktu menjajah Spanyol. Kaum Muslimin sepenuhnya memberi ruas kendali kepada orang-orang Spanyol sesuai dengan undang-undang yang ada di waktu yang lain.

Reinhard juga mengatakan, ‘Jika kita bandingkan keadaan Spanyol setelah kedatangan kaum Muslimin jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini disebabkan kaum Muslimin mempunyai toleransi tinggi terhadap penduduk Spanyol dan mereka tidak pernah memaksa penduduk Spanyol memeluk Islam.’”

Masih banyak orang yang berkomentar terhadap sifat toleran yang Islam miliki, termasuk E. Levi Provençal, Gustave Le Bon, dan masih banyak lagi.

Kesimpulannya, Islam adalah agama yang tidak memaksa orang untuk memeluknya. Islam juga tidak hanya diakui oleh pemeluk Islam, banyak orang yang berkomentar tentang betapa tingginya sifat toleran yang Islam miliki.

Kasih Sayang, Persaudaraan, dan Kemanusiaan

Kita tutup karya ini dengan kata-kata dari Walles:

“Agama Islam penuh dengan roh kasih sayang, persaudaraan dan kemanusiaan.”

Mulai hari ini, mari kita terapkan ke dalam kehidupan sehari-hari sikap toleransi dengan sesama di mana pun, kapan pun.

Penulis: Ananda Mirvat, Santri Kelas VIII Dayah Athiyah (SMP Plus) Seulawah
Editor: Muhammad Ikhsan, S. Pd, Gr

Last Updated: 12 October 2026, 20:05

Bagikan:

Artikel Lainnya

  • Indonesia Indonesia
    ID
  • English English
    EN